ulat hongkong

7 Tahapan Budidaya Ulat Hongkong yang Labanya Menggiurkan

Posted on

Ulat Hongkong – Bagi sebagian besar, ulat menjadi serangga yang menggelikan. Tapi bagi beberapa orang, ulat justru menjadi sumber penghasilan. Mulai dari coba-coba sebagai usaha sampingan, ulat ternyata bisa mendatangkan laba besar.

Ulat hongkong yang merupakan salah satu makanan burung ocehan yang bergizi. Ulat yang tidak memiliki bulu seperti ulat kebanyakan ini memberikan stamina yang baik untuk burung. Hingga saat ini, peternak atau pembudidaya ulat jenis ini masih sedikit, padahal permintaan di pasaran sangat tinggi.

Penasaran bagaimana cara budidaya ulat yang jadi makanan favorit burung pengicau ini? Berapa untung yang bisa didapatkan? Yuk simak tahapan lengkapnya di sin.

Mengenal Ulat Hongkong dan Keuntungan Membudidayakannya

makanan ulat hongkong
Image: kebun.co.id

 

Istilah lain dari ulat hongkong adalah ulat mealworm yang memiliki warna coklat kehitaman. Ulat ini merupakan larva dari kumbang kepikan yang memiliki protein tinggi. Bagi para penghobi burung, ulat ini menjadi makanan wajib agar burung berkicau dengan merdu.

Selain burung, ulat mealworm ini juga menjadi konsumsi hewan reptil dan juga ikan. Jadi pemasarannya di dunia satwa sangatlah luas. Tak heran jika permintaan ulat ini sangat tinggi, namun sayangnya masih belum banyak orang yang membudidayakan.

Keuntungan dari budidaya ulat hongkong bisa dilihat dari sekali panen. Seorang peternak bisa menghasilkan sekitar 2,5 juta rupiah dari 50 hingga 60 kilo ulat yang dijual 45 ribuan. Jika ingin menghasilkan untung yang lebih besar maka dibutuhkan wadah untuk memelihara lebih banyak.

Apabila dilihat dari modal, untuk menghasilkan 50-60 kg ulat setiap sepuluh hari dibutuhkan 100 wadah yang terbuat dari triplek. Sebagai awalan pembuatan wadah serta pakan ulat dan benih sebanyak 2 kg dibutuhkan modal 3 juta rupiah.

Apabila per sepuluh hari panen mendapatkan 2,5 juta maka per bulan dari hasil budidaya ulat ini saja bisa mendapatkan keuntungan sampai 7,5 juta rupiah. Laba yang cukup menggiurkan bukan?

Tahapan Budidaya Ulat Hongkong Bagi Pemula

Budidaya Ulat Hongkong

Secara umum cara budidaya ulat ini cukup unik karena diperlukan kesabaran dan ketelatenan. Salah satu peternak dari Dlingo Bantul yang dikutip dari harianmerapi.com juga mengungkapkan bahwa prosesnya sangatlah unik.

Prosesnya dimulai dari pemeliharaan telur atau sering disebut dengan kepikan. Larva ulat bisa dijual apabila usianya sudah lebih dari dua minggu. Tetapi sebagian harus dijadikan sebagai induk untuk pemeliharaan selanjutnya. Lebih lengkap mengenai cara ternak ulat hongkong, bisa mengikuti beberapa tahap berikut ini.

1. Mempersiapkan Alat-Alat dan Bahan Budidaya

Budidaya apapun dimulai dengan persiapan yaitu alat dan juga bahan. Untungnya baik alat serta bahan budidaya ulat ini tidaklah mahal dan mudah ditemukan bahkan dibuat sendiri. Siapkan juga tempat untuk budidaya di dalam ruangan terpisah dengan tempat tinggal.

Untuk alat, siapkan toples kosong dengan tutupnya. Bisa toples yang terbuat dari plastik atau kaca dan siapkan sekitar 3 buah. Jika tidak memiliki toples, bisa juga menggunakan papan kayu berbentuk tray dan pastikan tak ada celah di bagian bawahnya.

Untungnya juga menggunakan tray adalah mudah untuk ditumpuk. Jika menggunakan toples karena ukurannya terlalu besar akan memakan lebih banyak tempat. Selain alat sebagai tempat, siapkan juga kapas dan oatmeal atau havermut kering untuk disebarkan di dalam toples.

Setelah alat, siapkan juga indukan ulat sebanyak 2 kg yang isinya 500 hingga 1000 ekor. Pakan ulat yang dipersiapkan adalah sayuran, ampas tahu, atau dedak.

Baca Juga  Ulat Kandang: Perbedaan, Manfaat dan Cara Ternaknya

2. Pemilihan Induk Ulat yang Berkualitas Baik

Supaya hasil budidaya bagus, perlu memilih induk ulat yang berkualitas. Sehingga produksi anak ulat nantinya juga bagus. Ciri dari induk yang unggul adalah memiliki ukuran lebih besar dengan panjang 15 mm hingga kebarnya 4mm.

Maksimal jumlah indukan yang dipersiapkan adalah 2 kg saja agar mudah berubah menjadi kepompong yang ukurannya besar. Semua induk itu nantinya diletakkan ke dalam dasar tempat budidaya yang sudah dipersiapkan.

Cukup gabungkan ke satu toples saja, sisa toples digunakan untuk pemisahan nanti. Setelah diletakkan di bagian dasar kemudian tutup dengan oatmeal atau havermut dengan ketebalan 2,5mm.

Jangan terlalu tebal karena indukan akan kesulitan menggali nantinya. Lapisan yang tepat akan membuat indukan lebih mudah tumbuh dan berkembang.

3. Jadwal dan Cara Memberikan Makan Indukan

Selain menyiapkan tempat tinggal dan meletakkan ulat dengan benar, selanjutnya adalah pemberian pakan. Pakan harus dipilih yang bergizi agar ukuran ulat juga bisa lebih besar nantinya.

Makanan ulat hongkong yang paling bagus adalah voer ayam atau dedak. Pemberian pun tidak harus setiap hari melainkan setiap 4 hari sekali saja. Jumlah yang diberikan pun harus dibatasi yaitu 2 kg untuk 2 kg induk ulat.

Selain makanan yang mengandung protein, ulat juga membutuhkan buah serta sayuran. Pemberiannya memang harus dibatasi sekitar satu minggu sekali yang fungsinya untuk mempercepat pertumbuhan ulat.

Sayur dan buah akan membuat ruang tinggal mereka menjadi lembab. Suhu yang lembab membuat ulat lebih cepat berkembang.

4. Memisahkan Kepompong Ulat Hongkong

Indukan ulat akan berubah menjadi kepompong yang harus dipisahkan pada toples atau tray kayu lainnya. Pemisahan ini akan mempermudah ulat nantinya berkembang. Tapi cara memindahkannya pun tak boleh sembarangan.

Hal yang harus diperhatikan adalah pertama, toples atau wadah yang baru harus dilapisi terlebih dahulu dengan oatmeal atau havermut. Kemudian pemindahan harus dilakukan dengan hati-hati karena cangkang kepompong mudah rusak.

Pada saat meletakkan kepompong, prosesnya harus perlahan. Jangan letakkan kepompong saling tumpang tindih karena akan merusak cangkang. Selain itu perkembangannya bisa gagal ada pula yang mati.

Sebarkan kepom[ong secara merata dan beri jarak satu sama lain. Tutup toples atau tray kayu dengan kertas koran agar tidak terkena kotoran dari luar dan kepompong rusak.

5. Mempersiapkan Wadah untuk Kumbang

Proses perkembangan kepompong menjadi kumbang beras dibutuhkan 10 hari. Setelah masa waktu tersebut, sebaiknya siapkan toples baru atau tray yang digunakan untuk bertelur para kumbang nantinya.

Pada tahapan ini budidaya sudah mencapai 50% dan persiapan kumbang akan menciptakan ulat yang lebih banyak dan siap panen. Nah untuk memindahkan para kumbang maka siapkan toples yang baru.

Lapisi terlebih dahulu toples dengan kapas, fungsinya agar telur dari para kumbang tidak pecah bahkan rusak. Setelah toples siap, pilih kumbang yang memiliki sayap berwarna hitam saja. Jika ada yang belum maka kumbang masih belum siap untuk bertelur.

Tunggu beberapa hari kemudian hingga semua kapas berisi dengan telur kumbang. Jika telur sudah banyak nantinya akan berubah menjadi ulat hongkong. Rutin mengganti kapas yang baru dan belum ada telurnya akan membuat kumbang bisa bertelur lebih banyak lagi.

Pada saat kapas sudah dipenuhi dengan telur, maka segera pisahkan dari toples yang berisi kumbang. Bisa memindahkan kumbangnya, bisa memindangkan kapas berisi telurnya ke toples atau tray kayu yang baru.

Pemisahan ini akan membuat telur lebih cepat menetas menjadi ulat. Jangan lupa juga pada proses bertelur, kumbang harus terus diberi makan seperti biasa. Hanya saja porsinya lebih sedikit yaitu 3 gr hari sekali sebanyak 100 gram saja.

6. Cara Menetaskan Telur dari Ulat Hongkong

Telur yang sudah dipisahkan dengan kumbang akan masuk ke tahapan penetasan. Dibutuhkan waktu sekitar 10 hari hingga akhirnya telur menetas menjadi ulat. Jika penetasan berhasil maka budidaya ulat sudah berhasil.

Pada saat proses penetasan ini ada beberapa yang harus diperhatikan. Pertama ulat yang baru menetas jangan dipindahkan karena ukurannya masih terlalu kecil. Pelihara ulat dengan memberi makan secara rutin.

Ulat yang sudah bisa diambil adalah ketika usianya mencapai 30 hari. Pisahkan dengan ulat yang baru saja menetas supaya pemberian pakannya bisa sesuai. Ulat yang sudah besar bisa diberi pakan seperti kubis, sawi dan pakcoy.

Baca Juga  12 Jenis Pakan Ayam Petelur dan Kisaran Harganya

7. Rutin Mengamati Perkembangan Ulat Hongkong

Selama proses penetasan dan pemeliharaan pasca menetas Anda harus rutin mengawasi. Ulat yang baru menetas bukan berarti bahwa tugas Anda sudah selesai, justru perkembangan ulat harus terus diperhatikan.

Ulat yang baru menetas membutuhkan asupan gizi yang tepat sehingga jumlah pakan harus diberikan jangan sampai terlambat. Jika telat ulat yang masih muda akan mudah mati. Belum lagi ulat tidak bisa berkembang menjadi lebih besar.

Perhatikan juga ukuran dari toples atau tray tempat budidaya. Ketika menetas jumlahnya tentu akan semakin banyak bahkan memenuhi toples. Akan lebih baik jika Anda mempertimbangkan untuk menggunakan tray yang lebih besar atau banyak untuk memisahkan ulat.

Soal tray atau toples, Anda tak perlu terlalu sering membersihkan dan memindah-mindahkan ulat. Karena akan sangat mempengaruhi suhu dari toples yang menyebabkan ulat mudah mati.

Apabila berhasil dan ulat semakin besar, Anda bisa langsung memanennya. Harga ulat hongkong yang sehat dan besar bisa dijual sekitar 45 ribu hingga 50 ribu rupiah per kilogramnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *